Artikel Islami

PANDEMI CORONA 19

Surabaya, 20/3/2020. Jasmerah (Jangan sekali-kali melupakan sejarah), ungkapan tersebut relevan untuk direnungkan saat ini.

Pertama, pada tahun 571 M makhluk Alloh SWT yang berupa burung ababil menewaskan banyak manusia beserta alat transportasi (gajah) di Makah. Pada saat itu bertepatan kelahiran Rasulullah Muhammad SAW pembawa risalah kebenaran, dari alam kegelapan menuju alam terang benderang.

Kedua, pada Oktober 1347 M kapal-kapal dagang Genoa berlabuh di Messina, Sisilia, mengarungi laut hitam. Pelaut di kapal-kapal itu banyak meninggal dengan sekujur tubuh ada gelembung hitam. Otoritas Sisilia terlambat mencegah (lockdown) kapal itu berlabuh. Akibatnya, Eropa terjadi pandemik penyakit pes yang membunuh satu pertiga penduduknya (Yudi Latif, Kompas, 19/3/2020)

Ketiga, pada Maret 2020 terjadi pandemi global yang disebabkan oleh makhluk Alloh yang disebut VIRUS CORONA 19. Virus ini tidak kurang dari dua bulan sudah membunuh korban ribuan manusia.

Virus CORONA yang awalnya muncul di Wuhan Cina sekarang bergeser ke Eropa sehingga menyebabkan banyak negara merasa cemas dalam menghadapi ancaman nyata ini. Oleh karena itu, berbagai langkah kebijakan diambil untuk membendung laju penyebaran virus ini.

Pelajaran yang dapat diambil dari fakta-fakta tersebut adalah:
1. Sebagai umat muslim yang beriman harus yakin kalau yang diturunkan Allah SWT itu adalah baik.
2. Perlu ada kesadaran yang lebih mendalam terkait konsep "quangfusakum waahlikum nar" (menjaga keselamatan diri dan keluarga) supaya tidak terpapar COVID 19.
3. Perlu ada kebersamaan dalam menghadapi ancaman virus corona, diperlukan kepemimpinan yang kuat dan ditaati rakyatnya (taat kepada Allah, rasul, dan pemimpin).
4. Agar cepat dapat pertolongan Allah SWT hendaknya (sebagai umat muslim yang beriman) perlu nengamalkan surat An Nasr (QS, 110:1-3).
banyak membaca (1) tasbih, (2) tahmid, dan (3) istighfar karena Allah maha penerima tobat (Tubiyono).

KONSEKUENSI PENGEMBAN AMANAT

Surabaya, 3/10/2019. Pelantikan anggota DPR masa bakti 2019-2024 dilaksanakan 1 Oktober 2019 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta. Anggota DPR yang baru dilantik tersebut merupakan hasil pilihan rakyat pada pemilu April 2019.

Proses untuk jadi anggota DPR 2019-2024 melalui proses panjang menyita waktu, tenaga, pikiran, dan finansial yang tidak sedikit. Anggota DPR merupakan manifestasi personal-personal terpilih dan bersedia mengemban amanat. Kesediaan mengemban amanat merupakan warisan yang sangat manusiawi dari generasi ke generasi berikutnya.

Apabila dikaitkan dengan kisah penawarisan mengemban amanat pertama kali dari Allah SWT, maka langit tidak sanggup, bumi tidak sanggup, dan para malaikat pun tidak sanggup mengemban amanat karena takut melanggar apa yang telah ditetapkan-Nya.

Akan tetapi, manusia dengan lantang menerima untuk mengemban amanat dari Allah SWT tersebut. Selanjutnya, konsekuensi manusia menerima amanat dapat dikategorikan sebagai dholuman jahulan (QS, 33:72) yang berarti bahwa manusia sangat dholim dan amat bodoh.

Read more ...

Penderitaan "Ambyar" setelah Dapatkan Hidayah dari Tuhan

Surabaya, 30/9/2019. Lagu baru Didi Prasetyo yang lebih dikenal Didi Kempot, berjudul "Ambyar" mengakomodasi keping-keping hati yang patah bagi anak-anak muda. Dia memprediksi lagunya disukai khusus generasi muda (milenial) yang sedang patah hati dan galau berat. Fenomena yang demikian, diartikulasikan Didi Kempot dengan tidak cengeng, tetapi dibuat para penikmatnya ingin berjoget (Kompas, 29/9/2019).

Hati yang galau berat dialami oleh semua manusia tanpa kecuali. Manusia pertama yang hatinya patah berkeping-keping dan galau berat adalah Adam dan Hawa. Betapa tidak galau berat, keduanya dipisahkan Allah dalam waktu relatif lama (ratusan tahun), sehingga tidak punya kekuatan yang tersisa, kecuali doa untuk mendapatkan hidayah dari Allah SWT.

'Ya Allah, kami telah menganiaya diriku sendiri dan jika Engkau tidak mengampuniku dan tidak memberi rahmat kepada diriku, pastilah diriku termasuk orang yang merugi ' (QS, 7:23).

Ternyata, doa Adam dan Hawa tersebut, "ambyar" dikabulkan Allah SWT di Jabal Rahmah, Gunung Kasih Sayang, dan keduanya hidup bersama kembali seperti di surga berkat hidayah-Nya.

Pelajaran yang dapat dipetik dari kisah Adam dan Hawa yang sangat menderita adalah kelembutan hati (latiful qolb) yang menyebabkan hatinya terbuka terhadap cahaya ilahi, maka sebagai rasa syukur Adam dan Hawa, keduanya berthawaf. Kisah ini termasuk salah satu insipirasi mengapa manusia berumrah dan berhaji. (Tubiyono)